Saturday, March 10, 2012

Cerita dari Rumah Kardus


Tau kardus, kan? Itu yang biasa dipake buat mengemas dan membungkus barang atau apa aja. Bahannya apa? Semacam kertas tebal berlapis-lapis dan kaku, berwarna rata-rata coklat. Tipikal kertas yang kita tau adalah menjadi koyak dan mudah sobek jika terkena air, mudah tertiup angin dan terbang, serta mudah terbakar. Gimana kalo kardus menjadi bahan bangunan? Sebagai rumah, tempat berteduh, tempat tinggal?

Bukan hal yang baru sih kalo di Jakarta. Setiap denger soal rumah kardus pasti yang kebayang ya rumah-rumah di derah 'kumis' alias kumuh-miskin yang menempati tanah yang entah milik siapa, bahkan sertifikatnya ada atau nggak pun nggak jelas. Rumah-rumah  yang bisa kapan aja kena gusur petugas. Yang kemudian penghuninya harus kalang kabut cari kardus-kardus lain buat 'dibangun' menjadi tempat tinggal. Di situ si Thamrin tinggal, anak SD yang cerdas, kata Pak Gurunya. SD Negeri di daerah Kramat, Jakarta Pusat. SD Negeri yang kebanyakan siswanya merupakan anak-anak keluarga penghuni rumah kardus. Yang sebelum berangkat sekolah harus pergi ngamen dulu, yang pas mau Ujian Nasional, guru-gurunya, masih pake baju dinas, nyariin mereka di rel-rel kereta, di terminal-terminal, dan pasar, dan ngejar mereka untuk ngingetin bahwa sudah waktunya ujian. Anak-anak yang orang tuanya entah siapa, anak-anak yang orang tuanya bercerai, anak-anak yang kata-katanya kasar dan liar, anak-anak yang udah bukan usia SD, hamil pas mau Ujian Nasional, dan lain sebagainya. Ini semua diceritain sama Pak Guru, waktu gue mau screening pasien pedo, tadi pagi.
~
Kira-kira dua hari yang lalu, gue ngomel-ngomel di dalem hati karena ada pengamen-yet-preman di atas bus yang ngambil uang ongkos nenek-nenek yang duduk di sebelah gue. Pernah naik bus terus ada preman yang suka orasi "yaaak bapa ibu yaaa, lapar itu menyedihkan bapa ibu yaa!! Jangan sampai kami mengambil yang bukan hak kami, hargailah suara kami, bapa ibu yaa!!!"? Nah, yang semacam itu lah yang gue temui di bus dua hari lalu. Bukan fenomena aneh, gue selalu nyuekin yang seperti itu. Gue lebih menghargai pengamen, walau pun suaranya pas-pasan. Jadi, nenek-nenek di sebelah gue ini ketiduran sambil megang ongkos 20.000 rupiah di tangannya, pas si preman minta uang, nenek ini tersadar mendadak dan langsung ngasih uangnya, gue kontan bilang "Bu, jangan kasih uangnya, itu bukan keneknya!", si preman bilang "nggak, sama aja...". Untung nenek itu langsung narik tangan si preman dan ngambil uangnya. Si preman malah bilang "Makanya kalo orang minta uang jangan tidur!". Bener-bener nih orang, kelakuannya minta ditempeleng. Untung gue bukan tipe orang yang ringan tangan. Pantesan dia nggak maju-maju, cari uang nggak pake cara jujur.
~
Orang-orang kayak gitu mungkin versi preman-nya orang-orang yang tinggal di rumah kardus. Mereka versi nggak-belajar-di-sekolah-nya. Dengan keterpaksaan, mereka jadi kayak gitu. Hidup di Jakarta keras, men! Tapi, menurut Pak Guru, Thamrin bukan anak yang seperti itu. Thamrin itu anak yang tergolong cerdas, pernah selama dua minggu dia nggak masuk sekolah. Gurunya nggak nyariin karena udah tau pasti akan bingung mau nyari di mana. Biasanya kalo dia nggak masuk sekolah, berarti rumah kardusnya baru aja kena gusur. Dia dan 11 orang anggota keluarga lainnya harus cari kardus-kardus dan tempat lagi buat tinggal. Dua minggu berlalu, baru deh dia masuk sekolah lagi, dengan semangat belajar yang sama, seperti nggak ada apa-apa. Pak Guru cerita, katanya pernah nemuin keluarga Thamrin di dekat kolam renang Senen. Ngenes. Tapi nggak tau mau diapain lagi.

Suatu hari bapaknya Thamrin meninggal karena 'angin duduk', kalo kita mungkin biasanya bilang angina pectoris. Jenazahnya ditaro di atas rel kereta yang udah nggak kepake dan ditutupin gitu aja pake koran. Semuanya dilakuin kayak begini karena nggak tau mau diapain. Nggak ada uang buat mandiin, ngafanin, dan nguburin. Jadi Pak Guru dan beberapa orang 'relawan' dadakan yang nitipin jenazah ke masjid terdekat supaya diurus. Setelah itu, Thamrin jadi semakin jarang masuk sekolah. Semakin sering Pak Guru harus nyariin dia ke rel-rel kereta dan lainnya buat masuk sekolah.

Ujian Nasional Thamrin akhirnya bernilai tertinggi se-Kecamatan Senen. Pak Guru memang udah tau bakat Thamrin, dan menyarankan Thamrin supaya nerusin sekolah. Tapi keluarganya menolak dengan alasan takut ngerepotin lah, takut susah nyari uang lah, dan lain sebagainya. Padahal ada BOS dari pemerintah yang bisa dipake Thamrin sampe SMP setidaknya. Sampe sekarang, Pak Guru nggak tau gimana kelanjutan hidup Si Thamrin.

Gue selama ini ngira, cerita Thamrin cuma ada di bayangan pengarang-pengarang cerita yang mengharukan, tapi ternyata ada Thamrin yang sesungguhnya. Gue nggak berharap preman yang gue temui di bus dua hari lalu adalah Thamrin. Dunia memang sempit, tapi preman-preman kayak gitu nggak cuma satu-dua, kan. Nggak bisa gue pungkiri juga, kalo dia masih dengan hidupnya yang lama, tanpa pendidikan formal dan agama yang ngajarin kebaikan dan kejujuran, ada kemungkinan dia menjadi seperti itu. Semoga Thamrin kembali sekolah. Semoga nanti Thamrin bisa ngubah rumah kardus jadi rumah yang lebih layak dengan cara yang baik dan jujur. Amin.

Ini memang bukan kali pertama gue ketemu anak-anak jalanan yang sekolah. Beberapa kegiatan pernah mempertemukan gue dengan mereka. Dan kegiatan baru-baru ini (screening pasien pedo/kedokteran gigi anak) membuat gue kembali lagi turun dan melihat kehidupan mereka. Sebenernya semangat belajar mereka ada, cuma perlu konsentarsi yang lebih terpusat pada sekolah aja supaya mereka bisa bener-bener belajar. Tapi kehidupan mereka yang bikin mereka jadi nggak bisa fokus sama pendidikan. Peran orang tua penting banget. Tapi nggak jarang justru mereka terlahir dari orang tua yang-maaf-tidak bisa bertanggung jawab. Bukan tidak bertanggung jawab, tapi tidak bisa. Jadi inget salah satu RS di mana gue pernah jaga, bagian perinatologi nya selalu penuh. Menandakan betapa tinggi angka kelahiran. Betapa sering seorang Ibu hamil di usia muda, tanpa mempertimbangkan dulu, apakah mampu membesarkan dan merawat anak-anaknya dengan baik sesuai amanah.

Waktu gue screening pasien pedo Rabu lalu, anak-anak SD itu kayaknya nggak seteratur gue dan temen-temen gue waktu SD deh, gurunya lebih galak-galak (mungkin maksudnya tegas). Mereka memperlakukan siswa-siswa begitu tegas. Padahal cara gue screening udah kayak biasanya gue dan temen-temen melakukan penyuluhan ke anak-anak, fun, baik dan ramah, dan banyak memuji. Tipikal kesukaan anak-anak. Tapi ternyata anak-anak di SD ini beda penanganannya. Gue dulu nggak pernah punya guru kayak gitu, tapi di SD itu ada. Pas ngobrol sedikit sama gurunya, ternyata beliau seperti Pak Guru. Dedikasi tinggi untuk pendidikan anak-anak di SD nya. Sama mulianya dengan guru-guru di sekolah lain. Bahkan punya nilai plus di beberapa aspek, menurut gue. Just another awesome proof of how honorable teachers are.

Alhamdulillah, gue mendapat kesempatan sekolah sampe saat ini. Jauh terlalu beruntung dibandingin Thamrin dan temen-temennya. Mungkin sebenernya mereka ini anak-anak yang cerdas, buktinya masih bisa konsentrasi belajar dalam kondisi keluarga seperti itu dan di rumah kardus, yang setiap pagi dan sore harus cari uang juga. Allah mungkin punya jalan masing-masing untuk hamba-Nya, tapi kita tetep harus usaha dan nggak boleh jauh-jauh dari kejujuran dan keikhlasan. Dia Maha Adil. Pasti semua ini ada alasan-kenapa-nya.

picture from weheartit.com

Tuesday, February 28, 2012

February Ending part 3

I remember the times when I was down, I was wrong, I was in the bottom of every bottle. Then the only way back is still, home. Maybe this is how Allah Subhanahu Wa Taala reminds me that whatever happens, whatever burdens you, first, be ikhlas, ask Him for a guidance, and go back to your home, where the people you love from the very beginning of your life until the end of time, are always there, welcoming you, no matter how late you were. There was never be a no for opening the door for you.
  
Two weeks ago, I've answered the 'gold offer' I wrote about in the previous posts. I think I have decided to accept that sometimes what I desire isn't always the same as what I deserve. Even for this 'offer', I still don't get the 'AHA!' moment about why I was chosen. This leads to the 'second opinion' I (think I) needed.
          
I haven't talked to my closest ones about this second opinion, until I finally decided to stop waiting for the right one. No, it does not mean that I don't need it anymore. I think I just have to be more appreciating the term 'go with the flow'. I think I just don't need to worry about any altered future plans due to this decision since Allah Subhanahu Wa Taala has certainly written this as one of my story in His big book called fate.
           
Some stories of my life has thought that wrong decisions were made by involving emotional mind. I think the need of 'second opinion' for this case was the same as putting emotional mind as a postulate of deciding something very important. And what I have to learn more about is that every emotional thingy has its own 'expiry date'.

             
So, when last satnite, my friends asked about this, I didn't realized how I could be so much 'cooler' when it came to my love life and when it came to my decision. Out of nowhere, I suddenly believed that the second opinion I was waiting for is also in the way of fighting its own emotional mind before reaching expiry date. I smiled. It's decided in the heart that I won't worry this so-called 'second opinion' no more. When the time has come, nothing will ever stopped it from coming. :)
        
~
              
Sometimes I contemplate, for the happiness of whom I study until becoming (insha Allah) a dentist? For continuing the life of whom?
               
Frankly, if getting married is not an obligation, if having my own family is only an option, if in Quran there were no ayah about human was created in pairs, for now (before I find the other half of the pair), I'll be working hard for the happiness of my parents cause it hurts when I can't afford to buy Ibu good shoes and dresses. She never asked for it, but it hurts to see her sincerely said that it's okay if she wears the same dresses for some other occasions. It hurts to see Papa postponing his desires just to fulfill my needs. It's all because I'm still being an intern dentist, hasn't got any income yet. What a daughter can do for her parents, then? Sometimes I blame the long journey of my study, why did I choose this way? It's such a burden and sad that I haven't been able to do anything related to their well-being. But then again, I thank Allah for reminding me that this is the way He gave to me, no time for giving up.
         
I only wish they know, I don't care how their educations were, I don't care no matter what their jobs were, all I know is that they are the most respected man and woman in my entire life. I love them in all ways. That's why their names are the names I have been fighting for, to take them higher, to make them the proud parents.
       
But in the end, I am still an ordinary girl, whose dream about a prince charming (hahaha, seriously I don't know what word 'prince charming' best replaced with) is just like all other ordinary girls around the world. If I find the other half of the 'pair', of course, the purpose of this hardwork will be divided into two. ;)
  
Being married forces people to fine tune those not-so-great aspects of people's life and strive to be better. Cause love is when you are in a loving relationship (in love and being loved), you have an amazing reservoir of energy within you that allows you to flourish and nurture. It brings out the best in you and makes you strive to be better because someone cares and loves you, and vice versa. It is kind of like how we instinctively react to another’s perception of us, when they think well of us and believe in us, we want to do even better; but when they disparage us we will get defensive. So, there's no wonder that our beloved Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam said that marriage is half of faith. - Anonymous on tumblr.
      
So, I am working on my faults and cracks, filling in the blanks and gaps, and when I write them out they don't make sense, I need you to pencil in the rest...

PS. nulis postingan apa sih gue barusan??

Friday, February 10, 2012

Home is where the heart is

Thank God It's Fridaaaayy! Alhamdulillah... Gue akan memanfaatkan weekend baru ini dengan sebaik-baiknya; menemani Ibu di rumah, baca buku-buku yang udah gue beli entah dari kapan dan lupa atau belum gue baca sampai selesai. Itu udah jadi rencana gue dari awal minggu ini. Dari hari Senin, hari pertama Ibu kontrol post op pengangkatan kista di ovariumnya.

Gue mungkin belum cerita Ibu sakit apa sejak gue nulis dua postingan sebelum postingan yang ini, tapi yang jelas minggu ini adalah minggu ke dua setelah operasi Ibu dilakuin. Gue cukup was-was karena tipikal Ibu adalah tipikal ibu rumah tangga yang nggak bisa diem kalo masih ada kerjaan yang belom kelar. Jadi di masa pemulihan ini, sebenernya Ibu belom boleh banyak gerak. So it's my extra duty to watch over her at home.

Tiga hari yang lalu Papa berangkat dinas untuk urusan kerjaan yang kayaknya cukup penting karena udah disiapin dari berbulan-bulan yang lalu, jauh sebelum tau Ibu sakit. Jadi, setelah Ibu operasi, Papa ga bisa lanjut nemenin terus di masa pemulihan karena harus dinas, Bik Lin, Bibik yang kerja di rumah tante gue, yang dipinjem buat bantu-bantu di rumah selama Ibu pemulihan juga nggak bisa lama-lama karena harus pulang kampung. Uda Dany nggak di rumah, karena kerja di Halmahera Timur, Adek sibuk sekolah dan bimbel, berangkat Subuh dan pulang setelah Isya.

Dan gue baru aja masuk stase baru, Oral Medicine, atau IPM, yaah, kayak IPD nya FK. Satu-satunya stase klinik tanpa tindakan di bidang kedokteran gigi. Kalo di stase kilinik lain, kita pasti ngelakuin tindakan untuk nanganin pasien dan segala macemnya yang kemudian mungkin jadi alasan untuk memberi nama lain dentist dengan dental surgeon, sedangkan di Ilmu Penyakit Mulut, nggak ada tindakan, semuanya diagnosis dan treatment non-bedah. Ilmunya kurang lebih mirip Ilmu Penyakin Kulit dan Kelamin, tapi manifestasinya di mulut, cara belajarnya mungkin nggak beda-beda amat dari Ilmu Penyakit Dalam, bedanya, nggak ada jaga malam. Hehehe... Emang nggak ada jaga malem, nggak perlu nginep di asrama kayak stase Bedah Mulut, tapi gue udah lama juga nggak pulang lebih sore dan menjelang malam dan bertemu dengan segenap warga luar Jakarta lain yang harus macet-macetan untuk pulang ke rumah di sore hari. Harusnya satu jam jadi dua jam sampe rumah. Ini yang menyebabkan gue cuma ada di rumah dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada ada di luar rumah. Dan akhirnya harus ambil andil dalam daftar orang-orang yang bikin Ibu kesepian di rumah di saat pemulihan.

Kemaren gue sempetin cerita-cerita sama Ibu sepulang dari kampus (Ibu pasti kesepian nggak ada temen ngobrol kalo di rumah), Ibu baru bilang kalo sempet nangis pas Papa berangkat, waktu itu gue dan Adek lagi di kampus dan sekolah, soalnya udah lama banget Papa nggak dikirim buat dinas, karena emang udah usia mau pensiun gitu. Ibu langsung sendirian deh di rumah. Emang dasar gue si anak gengsian, cuma bilang "Ah, Ibuuu, sabar yah... Bentar doang...". Sebenernya sedih aja gue tiba-tiba, kasian sama Ibu, lagi sakit tapi malah kesepian. Dua hari yang lalu, gue sempet agak bernada tinggi sama Ibu via telepon waktu kartu ATM gue ngadat pin nya, dan ternyata Ibu salah ngasih pin. Ibu, seperti biasa, sabar dan nyuruh pelan-pelang ngulang ngetik nomor pin nya. Nggak berapa menit setelah kejadian itu, gue langsung ngerasa bersalah udah bernada tinggi sama Ibu. Emang dasar gue si anak gengsian, gue akhirnya sms "Bu, uangnya udah Ami ambil, bentar lagi Ami pulang yah... Ibu lagi apa?". Harusnya gue emang minta maaf, tapi susah. Terus gue rasanya pengen pinjem pintu ke mana saja-nya Doraemon dan langsung pulang ke rumah, waktu Ibu bales: "Lagi ngaji sendirian di rumah". Then, I whispered: Mom, I wished I was with you through your recovery days.

Malemnya, Ibu pergi keluar sebentar, ada yang harus dibeli. Adek belom pulang dari bimbel, gue sendirian di rumah. The moment she was gone, gue tiba-tiba nangis. Well, silahkan bilang gue lebay. But this was really what I felt. Gue tiba-tiba jadi kangen rumah sempit ini penuh sama ke lima anggota keluarga gue. Ada Papa yang kerjanya suka lupa minum air putih dan milih minum teh manis padahal udah disiapin air putih dengan gelas segede gaban di depan mukanya, Ibu yang sering ngomel soalnya gue suka males ngepel lantai yang ketetesan keringet gue pas olahraga sore, Adek yang suka bergolek di depan tivi, nonton NCIS sampe ketiduran, dan Uda Dany yang paling sering bongkar kulkas dan lemari di dapur buat nyari makanan. Dan nggak sabar hari Jumat karena di weekend ada kebiasaan jalan keluar malam hari kalo Uda Dany lagi pulang ke rumah.

Waktu itu gue lagi sibuk nyiapin presentasi materi IPM gue buat besoknya sambil buka e-mail. Eh ternyata Papa kirim e-mail dari tadi pagi, gue baru baca. Nggak tau kenapa, jadi sedih. Segini jauhnya yah si Papa, sampe nelepon aja susah. Papa cuma nanya kabar, ngasih tau kabarnya di sana, ngingetin supaya Ibu nggak banyak bergerak, nyuruh nelepon Bik Lin supaya balik lagi ke rumah, dan nanya si Adek gimana bimbelnya. Simple e-mail, but I was touched. If I were on his place, maybe I'd become too busy that I forgot to text my family at home, not noticing that I could be this lonely if I'm home and the rest of my family are busy far from home. Mungkin Ibu juga ngerasa kayak gitu, bahkan jauh lebih sering, waktu suaminya, dan anak-anaknya sibuk di luar ngurusin urusan-urusan yang nggak ada kaitannya dengan beliau, beliau tetep di rumah, ngurusin semua hal yang selalu ada kaitannya dengan suami dan anak-anaknya.

Gue agak sedikit vulnerable belakangan ini kalo ada sesuatu yang mengenai urusan keluarga. Nggak tau kenapa, kayaknya makin kesini, makin berasa banget pentingnya keutuhan keluarga. Harusnya gue lebih banyak ngabisin waktu bareng mereka. Sejak Uda Dany kerja jauh banget di tempat yang nggak ada sinyal telepon, Adek yang harus pergi Subuh pulang Isya, gue yang makin hari makin tua di jalan, dan Papa yang sibuk di kantor, serta Ibu yang sendirian di rumah. Satu hal yang suka bikin gue ketawa pas Ibu cerita tentang harinya di malam hari waktu gue iseng-iseng tanya adalah responnya waktu gue bilang, "Yah, baru gini aja udah kesepian, katanya mau Ami nikah,  nanti kalo Ami ikut suami gimana?", beliau jawab dengan ringan dan gampangnya, "Kan ada cucu, makanya kamu kerja deh silahkan, cucunya biar Ibu yang urus, sehat deh Ibu pasti kalo ngurus cucu...".

Kalau sesuai rencana, Insya Allah Uda Dany bakal pulang tanggal 19 nanti sampe dua minggu, dan Papa pulang tanggal 23. Jadi, gue sangat sangat sangat nggak sabar nunggu akhir Februari dengan keluarga yang lengkap. Termasuk Ibu yang udah kembali pulih secara total. Biasanya Februari itu emang selalu ada hal-hal baru dalam hidup gue, entah pelajaran baru hingga gue jadi banyak bersyukur dengan hidup gue di bulan ini, atau cerita baru yang bikin gue ngerasa beruntung dan bahagia. Kalo orang lain mulainya bulan Januari, mungkin gue akhir Februari. Hehehe, nggak nyambung sih. Tapi mudah-mudahan akhir Februari ini semuanya akan jadi lebih baik, bisa kumpul sekeluarga di rumah. Cause home is where the heart is...

The love of my life

Happy weekend! Gue akan menghabiskan weekend ini dengan berada di rumah, nemenin Ibu dan ikutan istirahat bareng Ibu. Kayaknya seminggu pertama di stase baru ini, gue kurang tidur banget. Dan kurang ngobrol sama Ibu. Thank Allah it's Friday! :')

Sunday, January 29, 2012

Second Opinion


Before January ends, let's talk about resolution. By the way, this year 2012 what I would be like?

Probably most people may answer that question with series of resolutions they have had arranged way before new year. Some people may be passionately developing strategies to achieve those targets, and some other people might have competing to gain those spectacular missions they have dreamed of. And less people might have passed new year's eve by just sleeping.

Nah, I might be one of those less people who spent the new year's eve by just sleeping. It could be said that I never really into enthusiasm of new year's eve, moreover the day after that is holiday, so for me, as an intern dentist, even a brief holiday like that was precious that I must spend it sleeping. Hehehe.

Talking about resolutions, for me, resolutions shouldn't have to be made only in every turning year. They could be made every time you want a better change in life. Like me. What has had happened months ago has taught me that feelings sometimes blinds you. When you believe in one thing you like or you love, you believe that this would be like what you feel, besides, you just didn't get it that this might be your too-high expectation. So, the next thing you could probably do was just accepting again and again, that's what happened when you believe, but God does not believe it. That's what you should learn, that's when you think you know one particular thing would happen, but God does not think that you deserve it to happen, or it deserves you in return. So, ever since that time, I started to wash away what has made me holding on to such faith and start to give up on God to guide about whom or which I'll got faith on. Cause maybe I, unconsciously, thought that I have had already gave up on His plans, but in fact, I hadn't. Now, let's say this new year is another start, I think I will be only biding my time while giving up on Allah Subhanahu Wa Taala and trying to make a better me.

By the way, I got such a precious offer by the end of last year. An offer that has brought me to the thought of rearranging my future. An offer that could influence my future plans and choices. Future plans I have been dreaming since years ago. I have many choices, but this one has made me think twice. What's that offer? I can not tell you :p But this offer probably is one of His plans.

To make a decision about this 'gold' offer, I need a second opinion. Well, I have asked my closest ones about this choice, and they brought it back to me, some of them suggested me to have another second opinion, which will really mean to it. I mean, this another second opinion should be so much important for me that I could finally decide which one is the best, to accept this offer or not.

Okay, what is second opinion, anyway?

In medical, second opinion means another opinion from another doctor in order to get more treatment options and to gain more broad analysis to conclude the differential diagnosis, so that patients could choose which one the best they will take. It's like patient's privilege. But.... the second opinion in my case isn't like that, I mean, let's say, it helps me to conclude the diagnosis and treatment plans, but diagnosis here means my final decision to this offer, and the treatment plans is my other future plans which should be changed due to my final decision. Hehe. Too complicated to understand, huh?

Well, so I think I am in the need of this second opinion, a second opinion which will influence my decision, which will affect my future, hold a big role in my future plans. I don't make any target. Not anymore thinking that 'I can't imagine anyone else', all I have in mind now is just 'I can't imagine anyone'. I have given up. The best second opinion is on its way and yet to come.

Picture from weheartit.com

Wednesday, January 18, 2012

Mono-dialog Saya Tentang Ibu

picture from weheartit.com
    

Ini kejadiannya dua hari yang lalu. Eh, nggak deng, ini sudah sering terjadi. Tapi kembali terjadi dua hari yang lalu, waktu sistem imun tubuh saya akhirnya kalah dijajah oleh bakteri dan virus penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan saya lagi istirahat di rumah dengan manis dan lucu, sesuai saran dokter. Saya sekarang menjalani stase Public Health yang sama sekali nggak menarik perhatian saya. Apalagi, saya kebagian menjadi chief di stase ini. Oke, sudah tentang PH, saya cukup muak membahas itu.
   
Penyakit yang sedang menyerang tubuh saya ini membuat suhu tubuh saya mencapai 39.1 derajat celcius. Untung tekanan darah saya masih lumayan, walau pun cenderung rendah. Hidung saya terus-menerus mengeluarkan sekretnya yang encer dan... euuwhh lebih baik nggak dipaparkan di sini, walau pun nggak jijijk sih menurut saya, tapi kan yang baca blog ini bukan saya doang. Dokter nyaranin saya untuk istirahat minimal 2 hari di rumah, tapi saya harus melaksanakan program PH saya di Puskesmas di daerah Serpong lusanya. Jadi, dengan kebijakan yang saya buat sendiri, saya nggak masuk satu hari aja, dan akan masuk lusanya, di hari program.
    
Di hari saya istirahat di rumah, kerja saya cuma tidur, selimutan sampai cukup berkeringat dan nunggu suhu tubuh saya turun. Makan sedikit kurang bernafsu, minum obat, dan tidur lagi. Di rumah cuma ada saya dan Ibu, yang seperti biasa, sibuk dengan semua pekerjaan rumah. Semua. Perlu diulang.
        
Di siang bolong, sekitar jam sholat dzuhur saya terbangun gara-gara kedinginan dan mendapati Ibu tertidur di sebelah saya dengan ekspresi kecapekan. Sangat kecapekan sampai beliau nggak ngerasa dingin. Saya berhenti sejenak dari niat ingin bangun dari tempat tidur, saya pandangi wajah Ibu saya yang kelihatan terlalu capek. Lalu saya mulai berpikir, apa saja yang pernah saya lakukan hingga saya bisa secapek itu, apa saya pernah melakukan suatu pekerjaan yang membuat saya menjadi secapek itu, atau apakah saya bisa melakukan hal-hal yang membuat saya secapek itu. Semua pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala saya bertepatan dengan sebongkah batu besar menghantam dada saya hingga sakit sekali dan membuat air mata saya menetes.
       
Saya perlu cerita sedikit tentang Ibu...
        
Ibu saya sudah hampir paruh baya. Beliau bukan ibu yang sama dengan kebanyakan ibu-ibu dari teman-teman saya. Ibu nggak kerja di kantor, nggak pergi ke salon kecuali untuk potong rambut pendek (nggak lain supaya memudahkan pekerjaannya di rumah), Ibu nggak pergi ke dokter kulit untuk perawatan wajah, Ibu juga nggak ke mall untuk berkumpul dengan ibu-ibu lainnya sekedar hang-out seperti yang mungkin saya lakukan kalau sudah jadi ibu-ibu. Ibu juga nggak suka makan di restoran, dan sering bosan dengan masakannya sendiri (padahal masakannya enak banget, dan semua orang suka). Ibu nggak suka pakai baju-baju mahal, lebih sering belanja di Tanah Abang daripada di butik. Ibu nggak sekolah tinggi, cuma tamatan SMA, dengan ijazah sejak SD-nya hilang entah kemana. Ibu dulu minder untuk nerima beasiswa sekolah yang lebih tinggi, karena nggak ada biaya buat ongkos dan beli ini-itu. Ibu nggak punya ayah sejak kelas 6 SD. Ibu nggak bisa bangun dari sujud terakhirnya di setiap sholat sebelum memanjatkan semua doa yang baik-baik bagi keluarganya.
        
Ibu saya adalah sosok yang bagi saya merupakan ibu dan istri yang sesungguhnya. Ada di rumah, menjaga dan merawat anak-anaknya dengan telaten, merawat seisi rumah beserta perabot-perabotnya, memastikan semua penghuni rumah sehat dan makan kenyang. Dan belum bisa makan malam kalau Papa belum pulang dari kantor, kecuali minta izin dulu dari Papa, padahal mungkin Papa nggak keberatan Ibu makan duluan. 
        
Dan saya sangat membanggakan Ibu, apa pun tingkat pendidikannya, bagaimana pun pergaulannya, seperti apa pun kesehariannya. Saya nggak menemukan sisi jelek Ibu.
         
Eh, kok jadi banyak tentang Ibu?
               
Waktu itu saya nggak sadar saya mulai sedikit menangis ngeliat Ibu, otak saya mulai merinci apa saja yang sudah Ibu lakukan sampai jam segini sejak subuh tadi, dan saya tercengang sendiri di antara sesak di dada saya. Hampir semua pekerjaan rumah sudah beres. Dan Ibu nggak pernah berhenti melakukan itu semua. Pernah sesekali Ibu bilang capek, atau bosan. Tapi Ibu nggak seperti saya yang mungkin akan langsung berhenti melakukan rutinitas itu. Ibu tetap melakukannya.
         
Lalu apa yang sudah saya lakukan buat Ibu? Ini bukan pertanyaan yang baru pertama kali muncul di pikiran saya, sudah ribuan kali. Tapi saya belum bisa memberi jawaban yang memuaskan, yang nggak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru seperti; Memangnya itu cukup untuk Ibu? Apa kamu yakin itu bisa menghapus lelah di wajah Ibu yang mulai banyak keriput? Apa kamu pernah tau apa sebenarnya yang diinginkan Ibu darimu? dan apa kamu peduli akan apa yang diinginkan Ibu?
         
Saya punya banyak cita-cita, keinginan, rencana hidup, apalah itu. Banyak banget, dan hampir semuanya ide cemerlang yang hebat, hampir semuanya pengen saya raih. Kalau semuanya itu saya ceritakan ke Ibu, beliau akan dengan bijaknya bilang akan selalu mendukung saya agar dapat yang terbaik, lalu beliau akan menyuruh saya tidur cepat sebelum larut, banyak istirahat, lupakan ide-ide saya untuk mengurangi jumlah makan, menjaga kesehatan, selalu berdoa dan memohon pada Allah dan rajin belajar. Ibu akan selalu menambahkan untuk nggak banyak mengeluh waktu saya menghadapi kesulitan-kesulitan sepanjang perjalanan saya meraih semua itu, Ibu akan selalu mengeluarkan jurus pamungkasnya berupa suruhan untuk selalu ingat bersyukur, dan melihat ke bawah, bahwa masih banyak orang-orang yang jauh lebih tidak seberuntung saya, memiliki kesempatan untuk bermimpi, bahkan mewujudkan mimpi-mimpi.
        
Jadi, apa cita-cita, keinginan, rencana hidup, mimpi Ibumu, Rahmi? Naik haji? Itu? Kamu sudah tau itu, Rahmi. Semua Muslim di dunia punya mimpi seperti itu, dan bisa melihat Ibu naik haji merupakan salah satu diantara banyaknya cita-cita saya. Lalu apalagi? Suara di dada saya kembali bertanya. Saya tiba-tiba ngerasa super jahat, saya nggak tau. Total blank. Apa, dong? Ingin punya cucu dari rahimmu? Ingin punya mantu? Ingin lihat kamu jadi dokter gigi? Itu kamu tau.
       
Rahmi, apa kamu berpikir semua yang Ibu inginkan berkaitan dengan dirimu dan saudara-saudaramu? Berkaitan dengan Papa? Suara itu menggema di dada saya. Saya rasanya mau nangis lebih kencang, tapi saya tahan, jadi dada saya terasa semakin sesak, leher saya semakin sakit, tercekik oleh pikiran-pikiran saya sendiri.
            
Coba saya pikir, bagaimana jika saya nggak bisa meraih semua cita-cita saya dan saya akhirnya hanya akan diam di rumah, merawat seluruh anak-anak saya dan suami saya, menjaga dan merawat rumah, memastikan seluruh anggota keluarga sehat dan makan kenyang. Jadi, apa keinginan Ibu? Dan keikhlasan sebesar apa yang membuat Ibu akhirnya bisa bertahan sampai saat ini?
          
Malam ini, Ibu tiba-tiba sakit perut yang sangat, sampai nangis. Saya bingung, saat-saat seperti ini lah saya merasa bodoh karena lebih memilih kedokteran gigi dibanding kedokteran. Saya cuma bisa minta Papa bawa Ibu ke IGD terdekat. Dokter belum tau Ibu sakit apa, belum sempat USG karena sudah terlalu malam dan dokter penyakit dalamnya baru ada besok pagi. Pulang dari IGD saya lihat salah satu obat yang dikasih ke Ibu: Tramadol. Oke, berarti rasa sakit yang diderita Ibu dari tadi adalah sakit yang sangat sakit.
          
Saya bukan anak yang rajin menunjukkan kasih sayang saya ke Ibu, bukan juga anak yang menangis di depan Ibu karena sedih melihat keadaan Ibu. Saya cenderung cuek dan pura-pura galak supaya Ibu istirahat dan minum obat. Tapi begitu Ibu tadi pergi ke IGD, saya nggak bisa tahan sesak saya di dada, rasanya semua membuncah, sedih sejadi-jadinya. Apalagi yang harus Ibu ikhlaskan? Rasa sakit itu tolong jangan terlalu membuat Ibu menderita. Cukup menyiksa saya, anak yang sering mengecewakan Ibu, dengan melihat Ibu sakit. Jangan lagi, ya Allah. Sembuhkan Ibu, angkat penyakitnya. Amin.

Wednesday, January 4, 2012

Imperfect True Friend

Picture taken from www.weheartit.com
What do you expect for a true friend?
  
Okay, let's define what true friend is, first.
   
True friend here, means a friend that Insha Allah, will lasts forever, that keeps you when you sleep or awake. That spends the rest of a life time with you. That you love and loves you in return because Allah Subhanahu Wa Taala created you to be together.
      
So, what do you expect for your true friend?
                
Sometimes we, unconsciously, wanting to have a true friend who's nearly perfect. Even perfect. Besides, perfection only belongs to Allah. Sometimes, people expect a nearly perfect partner without looking back at themselves and ask, "have I already been good enough for them?" or, "am I deserved to have a true friend like them?".
                   
Well, I don't say that people may not expect the best, it's humanly. I, myself, sometimes think about it. Everyone wants the best, but if that's so, what will happen with those who aren't the best? What will happen in this world if everyone looks for perfection?
                  
According to my opinion, if you're meant to be with somebody, insha Allah they will become a 'perfect' one for you. No matter how many minuses they had. But how do you know a particular person is meant to be with you if you lock your door? Allah Subhanahu Wa Taala have told us that the good for the good, the bad for the bad. So why worry? Women with purity are for men with purity, men with purity are for women with purity (QS 24:26). I think we, human whose so many desires and mostly demanding, should always learn to be a better person. What better person? Besides ibadah, be better on many sides of life. I mean, some of you, including me, have bad histories. Move on, this is enough, do not look back and grieve over the past, for it has gone. And do not be troubled for future, but be humble for it.
                         
For example, let's say there's a man, having some ordinary criteria for his future wife. It's okay to have some, but I think, don't be too tight. This man wants to have a wife who looks more beautiful with hijab/scarf. He wants that woman who keeps modesty. It's good! But who knows if a woman who's meant to be with him is a woman who hasn't committed for wearing hijab? Should he choose to not accept it?
                        
I believe if one day, he could hold her hands and guide her that wearing hijab is an obligation, and it's good for her, for protecting her, and for him to love her more, and for Allah to give His mercy for their family, it will be much better. Isn't it more beautiful? I remember one thing Oasis had sung, true perfection has to be imperfect. Isn't this enough to explain that imperfection is a hidden beauty you have to dig?
                          
So, why demanding? :)
             
I, put trust in Him. That no one is better for me except what He has sent to me. How to find the right man? By improving self.... and keep this heart solely only for him, not to lock it tightly, but to keep it 'fresh and clean'.
                    
Women were made to be found and to be loved. So, why men, with all their superiorities, should also wait to be found? It's not your role, guys! :)
                        
(Inspired after tough conversations with so-called wordsmith, feelosopher)

Monday, December 26, 2011

Malam minggu paling emosional

picture from weheartit.com
Waktu itu, malam minggu yang paling emosional. Rasanya berantakan dan hancur, entah kenapa juga gue merasa gue sangat kesal dan kecewa. Gue marah sejadi-jadinya, marah yang nggak bisa dikeluarin sampe nyesek di dada.

Waktu itu, gue jadi supir bagi Papa dan Ibu ke resepsi pernikahan anak salahs atu kerabat Papa. Once more, it was Saturday night, and as another Saturday night, the traffic was so damn terrible, moreover, it was raining. Dan tiba-tiba di sebuah tanjakan di tol dalam kota yang waktu itu lagi padat merayap dan hujan, wiper mobil mati.

I should tell you, first. Ibu 'nggak pernah' setuju dengan ide bahwa gue akan menjadi 'supir' mereka ke resepsi malam itu. Ibu emang nggak pernah percaya bahwa gue bisa nyetirin mobil dengan baik dan benar, bahkan di dalam kondisi yang sulit sekali pun. Itu lah Ibu, cuma percaya Papa dan Uda Dany sebagai supir yang baik. Gue? Bukan pilihan. Ini sebenernya cerita yang sederhana, tapi the way I felt that night was so complicated. Ini bukan kali pertama Ibu mengeluh sepanjang perjalanan tentang cara gue nyetir mobil. Bukan juga kali pertama Ibu mendesah panik setiap gue ngerem sedikit atau nyalip mobil sebelah. Somehow, itu mengganggu dan gue sudah terbiasa untuk nyuekin ke-paranoid-an Ibu.

I didn't understand, kenapa malam itu rasanya gue kecewa dan ingin marah pada ke-parno-an Ibu yang semakin parah dan berlebihan. Waktu itu-yang biasanya gue bisa becandain ketakutan Ibu-gue malah terus nyetir dalam diam. Nggak peduli sama apa pun. Nggak mau ngomong. I was like angry and disappointed all at once. Gimana bisa seorang anak menjadi pandai kalau orang tuanya sendiri aja nggak percaya anaknya bisa? Gimana bisa seorang anak membuktikan bahwa dia bisa berhasil kalau orang tuanya sendiri nggak ngasih kesempatan untuk membuktikannya? I was so disappointed that I lost my appetite when we arrived at the reception even though I was starving along the way coming there. I even didn't give any smiles away to others at the reception. I was like gonna cry. Maybe it's too much. It was just too emotional.

I cursed at the way Ibu thought that I drive badly and how she never believed me for that. I was so sad and sometimes dropped my tears without her knowing. Everything might seemed simple, but the thing I felt was like an accumulation of everything.

Sampe akhirnya gue ketemu sama salah seorang temen Ibu dan Papa, seorang janda yang musim haji kemarin berhasil naik haji. Kebetulan beliau ini daftar tabungan haji nya barengan sama Ibu, but she's more lucky that she could go first while Ibu hasn't got the opportunity. Waktu itu hati gue lagi keras-kerasnya, gue bahkan nggak peduli gue ketemu sama kerabat orang tua gue yang mana, gue pengen cepet-cepet pulang dan tidur, berharap yang kejadian malam itu cuma mimpi.

"Alhamdulillah, indah banget di sana, pas liat Kakbah, rasanya pengen nangis, nggak mau pulang, ayo Bu Agam, cepet-cepet deh...", begitu kata temen Ibu dan Papa ini. Hati gue mulai melunak pelan-pelan.

"Iya, belom kesempatan nih, pengennya sih tahun depan, atau tahun depannya lagi." Ibu nambahin, gue kaku seketika.

"...Belom sempet nyisihin uangnya, iya sih, rencananya mau tahun 2012 ini lah kalo ada rejeki." Papa nambahin.

Gue inget satu dan lain hal, kuliah dan sekolah gue dan Adek yang masih jadi tempat utama buat ngabisin uang gajian bulanan Papa. Masa perklinikan gue yang nguras banyak uang untuk ini dan itu. Dan masih banyak lainnya. Gue inget Ibu suka banget jalan-jalan sendirian ke Pasar Tanah Abang, bukan untuk belanjain baju-baju kesukaannya, tapi selalu pengen beliin baju-baju untuk anak-anak perempuannya, padahal uang yang ada sebenernya pas-pasan. Ibu selalu nggak memikirkan dirinya sendiri. Gue berasa kayak anak nggak tau diri. Gue kan udah tau dari dulu, Ibu pengen banget bisa naik haji. Pengennya pengen banget. Dulu Ibu sendiri yang berusaha nyari tabungan haji yang paling bagus dan cocok, padahal sebenernya gue bisa nyariin, tapi gue waktu itu terlalu sibuk ngurusin urusan gue sendiri yang mungkin sebenernya bisa ditunda atau dikesampingkan. Gue inget gimana Ibu, yang tanpa pembantu rumah tangga, ngerjain hampir semua pekerjaan rumah sendiri, tapi bersikeras nganterin pasien full veneer gue yang udah tua ke kampus pulang-pergi selama perawatan yang lebih dari 10 kali pertemuan. Gue berasa kayak anak paling egois. Dulu Ibu pengen banget ditemenin daftar tabungan haji soalnya berharap gue lebih ngerti soal per-bank-bank-an walau pun gue bukan lah orang bank. Dan gue inget pas akhirnya gue nemenin beliau buka tabungan hajinya pertama kali dan nyetorin uang sisa belanjanya yang beliau kumpulin. Wajahnya berseri, penuh harapan bisa segera berangkat haji, selalu semangat nyeritain rencana-rencana hajinya, dan penuh doa setiap malam supaya diberi kesempatan dan cukup usia biar sempet ke tanah suci.

Tapi di bulan-bulan berikutnya Ibu mulai jarang dan nggak teratur nyetorin uangnya ke tabungan haji karena harus bayar ini itu yang lebih mendadak. Uang belanja pun kadang malah kurang dan Ibu harus nunda setorannya. Nggak bisa ngandelin dari mana-mana lagi karena emang cuma Papa yang kerja. Sementara gue masih aja jadi anak koass yang butuh uang banyak untuk ini itu. Jadi seorang sarjana yang belom punya penghasilan sendiri dan masih tergantung sama orang tua. Gue belom sama sekali menghasilkan apa pun.

Secara nggak langsung mau pun langsung, gue jadi salah satu penyebab Ibu belom juga berangkat naik haji, sampe sekarang.

Saat itu juga, hati gue yang lagi keras-kerasnya melunak dan rasanya pengen nangis keras-keras bahwa betapa hal sepele aja bisa bikin gue kesal sementara hal besar yang secara kronis terjadi pada Ibu akibat penundaan setoran hajinya karena pengorbanannya buat gue dan anak-anaknya yang lain, Ibu bisa sabar, dan selalu sabar, dan selalu sabar. Gue merasa seperti anak durhaka yang sempet punya rasa kesal dan kecewa pada Ibu, orang yang sebenernya mungkin sering gue kecewakan dan buat sedih. Orang yang nggak pernah berenti doain gue bahkan termasuk di saat gue mungkin lupa bahwa gue bisa hidup, berhasil, atau sehat, adalah karena doa dan kasih sayangnya yang nggak pernah ada absennya.

Waktu itu, malam minggu yang paling emosional. Rasanya seperti orang bodoh dan nggak tau diri. Gue tau kenapa gue merasa seperti itu, karena gue belom bisa ngasih apa-apa untuk Ibu dan malah berlagak seperti gue berhak merasa kecewa terhadap Ibu. Gue sedih sejadi-jadinya, sedih yang nggak bisa dikeluarin sampe nyesek di dada.

Selamat hari Ibu, 22 Desember kemarin. Maaf kalo Ami belum bisa memberi apa yang Ibu inginkan, maaf kalau Ami selama ini belum pernah bisa membiayai Ibu naik haji. Maaf kalo Ami suka lupa bahwa kasih sayang Ibu ke Ami nggak pernah berhenti dan nggak pernah ada gantinya. Semoga Ibu bahagia atas pencapaian Ami yang bukan apa-apa selama ini, semoga Ibu bangga punya anak seperti Ami. Ami sayang Ibu, dan nggak ada wanita lain yang lebih Ami sayang dari pada Ibu. Tau nggak, Bu? Ami sedang berusaha memberi Ibu "hadiah" yang terbaik, jadi menunggulah dengan sabar. Karena kesabaran membawa hasil yang terbaik.

Mungkin Ami adalah anak paling gengsi yang pernah ada di muka bumi, everyone knows it, but I hope you know that whatever I did if I ever hurt you, never meant that I don't love you. I might have done many stupid mistakes, but whatever I'm doing now is nothing else but for you to be proud and to live happily and always healthy.

Il Divo - Mama
Powered by mp3skull.com
 
Nb. This should've been posted last 22nd of December. I was too busy I lost my time in front of the laptop, I just found it today.

Sunday, December 11, 2011

My Birthday: Overdose of Happiness :p

This should've been posted in my birthday, almost a month ago. My 22nd biirrrthhdaaaaaayyy! Honestly I had no idea what to wished for cause I think the wishes have been the same for each year. And the older I am (I hope the mature I am), the more I think that I have to forget about the bad history and leave them behind, the more I assume that blowing birthday candles is like blowing out my times living in this world. The faster I will leave the people I loved (no, I don't mean to write sad things, sorry :D)

Well, I was on my Oral and Maxillofacial Surgery rotation in RSCM, my 5th day there when my birthday held. Since, OMF Surgery, maybe like other surgery rotations in medical faculty, had never been too busy and hard, we only did SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planing) for the patients, minor surgery assistance, and major surgery assistance. Also seeing so many 'bizarre' cases (since RSCM is center of referral hospital from all over Indonesia) so that I could learn many interesting new stuffs. It was all so fun, that I feel blessed having birthday in this rotation, hehe this made me having another new wish like entering this specialty after being a dental surgeon later on, even though I haven't really decide where to go on specialty. Cause I had no full interests in other specialty programs :p

The moment I mostly remember from my birthday at this stage is a senior resident of OMF surgery practiced my stupid face. Acted like me when I was asked "So, you're the birthday girl?". I didn't believe I had that kind of expression. -_____-

My friends and family, they've been so lovely. I got many presents and surprises! The most beautiful thing I got was from Uda Dany. Not because of the stuff he gave me, but the way he made the surprise. Like what I have posted last month that he's now in East Halmahera for work, no signal and internet connection. I was surprised that in the evening of my birthday, a postman came and delivered a package from him. Actually it was from his girlfriend (a friend of his, a girl, I mean). She wrote a letter inside the package that Uda Dany had bought the gift way before he went to East Halmahera. I suddenly felt my eyes filled with tears (and still didn't wanna let them dropped). Gosh, I've imagined a birthday without my complete family (my sister was also at Jogjakarta), but their love never leave me alone.

What a wonderful birthday! Moreover, I had these people spared their busy times for me.....
They made me look like this...

Hahaha! Thank you guys, also very big thanks and love for my group D! Cannot post their pictures. :*

Tuesday, November 29, 2011

Teacher's Teaching


"Jadi, kamu tau nggak sebenarnya langkah-langkahnya?", "Kamu nggak belajar, ya?!", "Kamu nggak boleh kerja lain kali kalo nggak tau langkah-langkahnya!", "Be*o! Fungsi ini apa? Apa saja yang kamu tau tentang ini? Bagaimana mekanismenya?!"

Bayangkan yang bicara itu, mukanya jutek, matanya melotot, ekspresinya melihat lo seakan-akan meremehkan lo, nadanya serius dan nantangin lo buat jawab pertanyaan-pertanyaannya yang sebenernya mungkin lo tau atau senggaknya pernah baca, tapi lo jadi have no idea gimana jawabnya, karena cara dia bicara udah pake emosi tingkat Dewi Kwan Im dan pembawaannya seperti dosen paling pintar seantero dunia keilmuan. Bayangkan beliau bicara seperti itu di depan lo. Gue yakin sebagian besar dari lo entah akan takut dan berdiri kaku dengan muka blo'on nggak tau mau ngapain, atau berusaha jawab dengan jawaban-jawaban yang walau pun benar atau salah, beliau akan tetap marah, atau lo akan nunduk nyerah sambil dimarah-marahin dan disumpah-sumpahin. Dan lo akan pulang ke rumah dengan dua kemungkinan; pertama, lo akan mencari tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dengan segan, atau kedua, lo sama sekali nggak semangat dan ngerasa terpacu untuk tau jawabannya, semanta-mata karena lo nggak suka dengan cara si beliau ini menuntut lo untuk 'bisa'.

"Coba, menurut kamu gimana bisa jadi seperti ini?", "Emangnya apa aja yang mempengaruhi?", "Nah, jadi ini kan? Tuh bisa, ayo dikit lagi!", "Hah, kamu belum pernah denger? Coba nanti kamu cari tau, ya. Kamu udah pernah masuk bagian itu kan?", "Oke, jadi kamu kalau belajar jangan cuma hafal, tapi ngerti, ngapain kamu baca textbook banyak-banyak kalo kamu cuma mau ngafal...", "Coba kamu kerjain, nanti saya liatin"

Bayangkan, dalam kasus yang sama, ada orang yang bicara seperti di atas ini dengan sabar, senyum, kadang ketawa remeh kalo lo nggak tau jawabannya atau kebingungan, dan mencoba memancing lo untuk dapet jawabannya karena sebenernya yakin lo nggak se'bodoh' itu untuk nggak ngerti sama sekali. Orang ini nggak sama sekali menganggap lo bodoh dan nggak sama sekali mengharapkan lo langsung bisa sehebat dan sepintar beliau karena beliau tau lo masih belajar. Bayangkan orang yang bicara seperti di atas ngasih tugas ke lo, dengan cara yang menyenangkan seperti itu. Gue yakin sebagian besar dari lo akan terpacu untuk mencari tau jawabannya, bahkan jadi terpacu buat tau lebih dalam dan lebih luas sampe-sampe pada pertemuan berikutnya lo punya pertanyaan-pertanyaan baru di kepala lo yang pengen banget lo diskusikan dengan beliau. Tapi gue nggak menjamin juga bahwa nggak ada orang yang malah jadi nganggep remeh, itu sih menurut gue agak pengecualian, alias bebel.

Ada kalanya tipe pengajar seperti di atas ini marah, dan itu bisa bikin gue merasa gue sudah melakukan kesalahan fatal sehingga membuat beliau kecewa dan marah. Atau beliau marah karena gue malas, nggak ingat tugasnya, atau karena gue nggak merhatiin penjelasannya. I'm okay about what he/she's mad at. Gue nggak akan minta maaf biasanya, tapi gue akan coba memperbaiki kekurangan gue dan bikin dia akhirnya bangga sama gue. Bikin dia merasa secara nggak langsung bahwa gue menyesal. That's my way of studying.

Which style do you prefer for studying? First or second? Kalo gue, tentu saja yang kedua. I am a kind of student who's gonna try the very best I could do until I get what I want, but in the same time, I am also a kind of student who don't like the way teachers pushes their students to be instantly as bright as them.

I'm never in to arrogance and heart-hurting. You know, words sometimes hurt, and they couldn't be taken back. Jadi, cara bicara dan bahasa sebaiknya yang baik dicontoh dan enak didengar. Sejujurnya, gue tipe orang yang agak sensitif dengan cara orang berkomunikasi dengan gue. Gue tipe orang yang nggak tega marah terlalu lama atau menyakiti hati orang lain. Gue nggak bisa marah. Once I did that, I'd feel guilty all the time. Jadi, gue pun nggak mau diperlakukan seperti itu, karena kalau gue bertindak seperti itu, gue akan ngerasa nggak enak dan bersalah terus.

Imagine, a person, he/she treats you well, very kind, patiently. Would you have a heart to disappoint them? Sama seperti ketika ada seorang pengajar yang baik, sabar, dan mengajar dengan caranya yang seru, asik, menyenangkan, dan mudah dipahami,akankah lo tega untuk males belajar atau ngelupain gitu aja ajaran-ajaran dari beliau? Kalo gue pribadi, waktu ada pengajar yang marah-marah terus, mudah tersulut emosi karena muridnya lama ngertinya atau lupa atau khilaf-khilaf yang lain, dan mencaci dengan 'berlebihan', gue justru akan jadi nggak suka dengan ajarannya dan jadi males buat belajar lebih lanjut tentang itu. I'm sorry, goodbye. Gue nggak akan menyentuh materi itu sama sekali, kecuali terpaksa supaya lulus. Sedih nggak sih, jadi pengajar yang muridnya belajar cuma supaya lulus, bukan untuk jadi pinter dan mau mengerti dan mengamalkan ilmunya? Gue sih, sedih. Gue akan merasa gagal.

Makanya, I never want to be a teacher. It's hard to be them. I can't be as tough as them, I'm not sure I would be able to be good enough for my students. Jadi guru itu berat dan punya tanggung jawab moral yang besar. Karena nggak ada murid yang bodoh, yang ada cuma guru yang nggak bisa mengajar dengan baik. (Reza Rifanto-3 Menit Membuat Anak Keranjingan Belajar).

Tapi, jadi guru itu mulia, jadi mulia itu nggak gampang, dan jadi guru itu harus teladan, jadi teladan itu juga nggak gampang. Jadi, menjadi seorang guru itu sulit. Hehehe. Makanya gue salut banget sama guru-guru dan dosen-dosen gue yang same sekarang berhasil bikin gue jadi kayak sekarang (walau pun sekarang juga belom jadi apa-apa). Salut pada bakti mereka, salut pada mereka-mereka yang berhasil mengajar dengan cara yang baik dan menyenangkan, dengan cara yang bikin gue suka.

I wish we, one day, will understand the way we love to study, and will be a good teacher, at least for our own children. Amin.

Nb. Gue nulis ini cuma karena kepikiran aja, sejak kuliah ini, gue semakin memahami cara belajar gue, cara pemahaman gue akan pelajaran-pelajaran. :)

Picture taken from weheartit.com

Thursday, November 10, 2011

:') :') :')


Buat Ami...
Maaf Uda ga bisa ada pas ulang tahun Ami... Ulang tahun itu hal yang amat kecil, jadi jangan sedih cuma karena pas ultah keluarga ga lengkap, Uda pasti selalu kirim doa buat Ami, biar sukses jadi dokter gigi dan bantuin Uda dan Papa buat sekolahin Adek... Dorong terus si Adek biar bisa masuk ITB...

Buat Adek...
Di ITB bukan cuma aspek akademis yang terbaik, tapi aspek sosialnya juga sangat baik, kalo Adek mau dapetin itu, caranya harus lolos tes SNMPTN ke ITB... Gimana pun caranya yang penting harus masuk ITB yah... Insya Allah ada rejeki untuk bayar kuliah Adek nanti, Uda sama Papa pasti usahakan, asal Adek harus belajar giat buat kejar cita-cita

Buat kalian berdua...
Mungkin Uda adalah anggota keluarga yang paling jarang ada di rumah sehingga waktu sangat sedikit buat Uda bertatap muka dengan kalian, Uda ga pernah sanggup bilang secara lisan kalo Uda sangat sayang sama kalian, tapi dalam hati Uda, Uda sayang banget sama Ami dan Adek...
* * *

Imagining his face, his style, his way of talking, I would never believe he wrote this letter. But this letter was originally written by his own hand, I've always known his handwriting style, it never changed since we were together going to the same elementary school and junior high. So does his attitude, he's always a guy with tough looks but tender heart. We grew up together with same cute shoes, his was blue and mine was red, with same plays, mine were dolls and his were kit cars, with same playground. We grew through many bad times and good times, he's been a 'cruel' yet loving brother. Until time separated us to different high school and university. Yes, we've been living under the different roof since about 8 years ago. Eversince that time, we only met once per month or two months, even more.

Time has taught many things, we grew up as big brother and big sister for our little sister. He's been a brother with bad temper, always easily get mad and offended. But maybe since we lived away, he got more mature each time we met again. Now that we have little sister (and he's the only man my dad would believe for guarding us), he never stops trying to be the best brother we've had.

He's now on his way to a new chapter of life, he has got what he dreamed of, working in a mine project, away from computers and desks. This letter was written two days ago, a night before he went to East Halmahera for work, for times I never knew how long. That night, he took me from my very last night shift at RSUD Tangerang, he waited patiently while I still handled my patient at the emergency room. 10 pm, my time was running, I finally handed my other friend that patient and got to the car briefly. I knew he should be at home soon and packed his bags. That'd be my last night with him before (maybe) months later. I felt hard things burdened my chest, I didn't know why this felt hard to let him go, maybe it's because we've been apart for too long and at the night I could go back from my dorm at RSUD Tangerang, why should I got home without my full-team family?

I was so tired that I felt asleep easily that night while he still had to pack his bags cause his flight would be at 2 am in the morning to Ternate. All I remember was he then say salam to me while I was sleeping, give me brief hug and kiss he very rarely did. Then, the morning I woke up, I didn't believe he's gone. It's very hard. I didn't understand. My mom then handed my sister and me, a letter he wrote specially for us. I held my tears hardly not to fall. I prayed to Allah for him, to protect him along the way wherever and whenever.

My sister, we've got the best brother everyone would envy at, mom, you've got the best son every mom would want to have, and dad, you've got the bravest and greatest son every dad would ever dreamed of. 
And if anyone tried to hurt my brother, believe me I won't stay calm >:)

Friday, November 4, 2011

Have you ever fought on behalf of your country?


Yea, it's not that you're a national football player or that you're a military soldier, but have you? I have. And it was amazing that when you 'bring' your country's name with yourself everywhere you go and whatever you do, you'll be trying to do anything in a good way. At least, that's what I held in mind. Others will judge, they will see you the way you behave, on behalf of your country. That's when I was one of the participant of IADR-SEA Division / Joseph Lister Award Competition 2011, last 30th of October in Singapore, as advanced level of the last competition I was in, last June.

The event was actually two annual meetings held in one. IADR-SEA Division 25th Annual Scientific Meeting and SEAADE 22nd Annual Meeting. It contained of general meetings, lecturers, seminars, research poster exhibitions, and many awards for researchers for dental surgeons, dental surgery students, and researchers. The participants were mainly from South East Asia, but I saw many people from outer South East Asia, also.

The participants from Indonesia were about 40's. From Universitas Indonesia, Me, Stella, and Ika were joining the Joseph Lister Award, and Dina was joining poster exhibition. Also some of my lecturers, residents, and many more, joining the seminars, meetings, oral presentations, and lecturers. In the second day of the event, two teams from Indonesia (Airlangga University and University of North Sumatera), won the 1st winner and runner up for SEAADE Student Prevention Table Clinic Competition 2011. And in the Gala Dinner for this event (where all participants from all countries had dinner together in a five-star hotel ballroom, man, this was amazing, never thought I could eat luxury foods as many as my belly would :p) we celebrated it. All delegates of IADR from Indonesia were in batik, brought Indonesian flags and took pictures together! Only Indonesia did this! All other participants from other countries just stare at us, some of them caught fascinated by our solidarity (hehehe). Even though I didn't know all them, but we supported each other, it was so touching. That's when I feel like, man, they were all hoping the best of me and for me! I bring their names indirectly, and our country's name of course.

Some of Indonesian Delegates in the Gala Dinner
My day was in the 3rd day, October 30th. The poster presentation of the award I, Ika, and Stella joined was held. I saw other participants from Hong Kong, Thailand, Vietnam, Malaysia, Philippines. Know what? I was nervous. I rarely felt nervous for any presentations before, but this one, I worried many things, since a girl like me still trapped on procrastination jails, I prepared the presentations only when I was on my way to Singapore, on the plane, 2 days before the D-day.
  
The judges were all professors from Malaysia, Hong Kong and a Caucasian man, maybe from the US (until now I haven't known his name yet). Their accents were all different, so it's another challenge for me to understand what they said in their 'own' English. Nearly to my time of presentation, I suffered dry mouth, as always. I drank many glasses of warm water and go in and out from restroom. I didn't feel as nervous as a night before, but since almost every delegates from Indonesia come and took pictures with us as we've become the champion it felt like it's such another burden for me.
  
It was surprising when in the lunch for Joseph Lister Award, my name was mentioned as the runner up. I didn't believe it, since after presentation, I once had lost my confidence of winning this award. Maybe I was a bit like stupid girl with mouth opened (haha!). I received the trophy and took some pictures with Ika, my amazing co-author and partner in crime (hehe), Stella, drg. Yosi, my lecturer, and the 1st winner from Hong Kong.
  
This is what I promised to myself, I didn't even hope to win for my university or country, I only hoped I did my best. I’m done. Even though I wasn’t the 1st winner, I feel blessed. I know maybe I hadn't done my very best, but with all friends and family’s prayers and support, this could happened. I am no one and will still be no one until people around me, love me. When my name being mentioned and followed by my country's name, it's like, wow! I'm proud of Stella also, she's great and I knew she competed very well, she's the winner in my eyes :), also my co-author, Ika. She's smart, without her help, we wouldn't win anything, and also Dina. Thank you, guys!
  
A great lesson I could learned from this is that you need people around you, you need to be loved, cause without their prayers and supports, you will be nothing. Even though you lost one love, you have many other loves from your loved ones. It worked on me, see I won't get any of these without them.
  
Alhamdulillah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala was and is always guiding me.

Friday, October 21, 2011

Hari ke-6, Ramadhan Kemarin

Setelah imsak, sebelum adzan subuh. Cuaca cerah sepertinya bakal memenuhi siang nanti. Seperti hari-hari sebelumnya. Cerahnya nggak bakal membuat saya juga merasa cerah yang sama, ditambah dengan asa yang menyesakkan di dada.

Jantung saya berdegup kencang. Serasa baru disuntikkan adrenaline, dan rasanya katup-katup jantung saya bekerja lebih keras membuka dan menutup, tiap bilik dan serambinya bergantian kontraksi dan relaksasi, lebih cepat. Kepala saya sakit karena memikirkan rencana bodoh itu. Saya coba ketik nomor yang memang nggak pernah saya hafal. Tiba-tiba saya nggak bisa merasakan jantung saya, kebal seperti orang gagal jantung, degupnya nggak keruan tanpa irama. Suara anda muncul mengagetkan, terdengar terburu-buru dan sedikit kesal karena kekhusyukan adzan subuh yang sedang anda siapkan terusik.

"Halo...?"

Saya berhenti sebentar, mengutuk diri sendiri, lalu tanpa hela nafas sekali pun, tanpa menjawab sapaan anda, saya bicarakan semua itu dalam hitungan detik. Selesai. Pembuluh-pembuluh darah saya berdilatasi. Lega.

* * *
Kemarin saya baru menamatkan Al Baqarah dalam rangkaian tadarus Ramadhan saya yang selalu saja berjalan lamban seperti tanpa progres. Biasanya tafsirnya saya abaikan, jarang saya coba pahami, tapi kali ini tidak, terutama ayat terakhir Al Baqarah. Saya mengulang-ulangnya karena dulu bagian itu lah yang paling saya hafal. Saya merasa dungu karena baru paham maknanya terlalu powerful bagi semua umat manusia yang ada di muka bumi.

Adzan subuh memanggil, saya sholat dan di akhirnya, saya baca lagi ayat terakhir Surah Al Baqarah.

Semoga kebijaksanaan-Nya membawamu pada kesadaran bahwa aku lah yang membisikkan 'semangat kecil' pada subuh saat Ramadhan hari ke-6. Aku yang membacakan ayat terakhir Al Baqarah untukmu, yang sebulan kemudian bahagia bahwa ayat terakhir itu bekerja padamu sesuai dengan tafsirnya yang luar biasa.

PS. Jangan tanya siapa 'saya' dan siapa 'anda'. 'Saya' dan 'anda' di sini bisa jadi anda sendiri, bisa juga saya, bisa juga orang lain, mereka bisa jadi siapa saja. Mengerti, kan?

Thursday, October 13, 2011

Destiny


We all know. God has planned everything, written on His big book called Fate. Sometimes I wonder if I could steal that book and write my own story, make my own destiny.

Can I?

No.

All we can do is accepting and keep moving. Like we have ever experienced, losing, getting, accepting, leaving, start loving, brokenhearted. Life is like a game sometimes, we start and then we end, we win, and then we lost. But sometimes we treat life too easily, like playing games. Sometimes we forget to appreciate our life. Sometimes we ignore God's warning. Sometimes we think we can rewind and start to play the same stage again so that we often underestimate every stage of the game. But that's what is different with life; we cannot rewind.

Two days ago, I was on a night shift at emergency room in RSUD Tangerang. It wasn't my first experience, but this one felt so touching. A 16 year old girl got motorcycle accident, she didn't wear helmet, with high speed, was going to exit a hallway and then suddenly bumped a car. She was then thrown meters away from the motorcycle and suddenly lost consciousness.

The moment she was carried to the emergency room, the Glasgow Comma Scale was only 4, she was totally comma. with her hands and feet kept moving showing she started to be hypothermia (but it also showed that she's still alive), and blood kept trying to get out from her body through her mouth, sometimes she vomited her stomach contents. She was having severe head injury. We did all we could, trying to save her life although we couldn't ascertain that we can. After about 1 hour doing the primary survey for her life support, goedel and cannula installation, infusion, resuscitation, suction for the bleeding, catheter, etc, her body activities started to stop. Her family started to whisper prayers through her ears. I saw her feet started to look pale, went up to her body and hands, and then.... I couldn't help hearing her mother cried, seeing her uncle dropped on the floor. The atmosphere suddenly felt cold.

That wasn't my first 'plus' case. But this one really has shown that fate works. God has planned everything, including how His creatures should end the stage of living this life; and also how His creatures should start the stage. At the same time of her death, I heard a baby cried, she was newly born in a cito surgery room right next to the emergency room. What a life! People come and go back from and to Allah Subhanahu wa Taala.

This one is dedicated to you guys who have fought for appreciating life, I hope you guys get a great place up there :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...