Tau kardus, kan? Itu yang biasa dipake buat mengemas dan membungkus barang atau apa aja. Bahannya apa? Semacam kertas tebal berlapis-lapis dan kaku, berwarna rata-rata coklat. Tipikal kertas yang kita tau adalah menjadi koyak dan mudah sobek jika terkena air, mudah tertiup angin dan terbang, serta mudah terbakar. Gimana kalo kardus menjadi bahan bangunan? Sebagai rumah, tempat berteduh, tempat tinggal?
Bukan hal yang baru sih kalo di Jakarta. Setiap denger soal rumah kardus pasti yang kebayang ya rumah-rumah di derah 'kumis' alias kumuh-miskin yang menempati tanah yang entah milik siapa, bahkan sertifikatnya ada atau nggak pun nggak jelas. Rumah-rumah yang bisa kapan aja kena gusur petugas. Yang kemudian penghuninya harus kalang kabut cari kardus-kardus lain buat 'dibangun' menjadi tempat tinggal. Di situ si Thamrin tinggal, anak SD yang cerdas, kata Pak Gurunya. SD Negeri di daerah Kramat, Jakarta Pusat. SD Negeri yang kebanyakan siswanya merupakan anak-anak keluarga penghuni rumah kardus. Yang sebelum berangkat sekolah harus pergi ngamen dulu, yang pas mau Ujian Nasional, guru-gurunya, masih pake baju dinas, nyariin mereka di rel-rel kereta, di terminal-terminal, dan pasar, dan ngejar mereka untuk ngingetin bahwa sudah waktunya ujian. Anak-anak yang orang tuanya entah siapa, anak-anak yang orang tuanya bercerai, anak-anak yang kata-katanya kasar dan liar, anak-anak yang udah bukan usia SD, hamil pas mau Ujian Nasional, dan lain sebagainya. Ini semua diceritain sama Pak Guru, waktu gue mau screening pasien pedo, tadi pagi.
~
Kira-kira dua hari yang lalu, gue ngomel-ngomel di dalem hati karena ada pengamen-yet-preman di atas bus yang ngambil uang ongkos nenek-nenek yang duduk di sebelah gue. Pernah naik bus terus ada preman yang suka orasi "yaaak bapa ibu yaaa, lapar itu menyedihkan bapa ibu yaa!! Jangan sampai kami mengambil yang bukan hak kami, hargailah suara kami, bapa ibu yaa!!!"? Nah, yang semacam itu lah yang gue temui di bus dua hari lalu. Bukan fenomena aneh, gue selalu nyuekin yang seperti itu. Gue lebih menghargai pengamen, walau pun suaranya pas-pasan. Jadi, nenek-nenek di sebelah gue ini ketiduran sambil megang ongkos 20.000 rupiah di tangannya, pas si preman minta uang, nenek ini tersadar mendadak dan langsung ngasih uangnya, gue kontan bilang "Bu, jangan kasih uangnya, itu bukan keneknya!", si preman bilang "nggak, sama aja...". Untung nenek itu langsung narik tangan si preman dan ngambil uangnya. Si preman malah bilang "Makanya kalo orang minta uang jangan tidur!". Bener-bener nih orang, kelakuannya minta ditempeleng. Untung gue bukan tipe orang yang ringan tangan. Pantesan dia nggak maju-maju, cari uang nggak pake cara jujur.
~
Orang-orang kayak gitu mungkin versi preman-nya orang-orang yang tinggal di rumah kardus. Mereka versi nggak-belajar-di-sekolah-nya. Dengan keterpaksaan, mereka jadi kayak gitu. Hidup di Jakarta keras, men! Tapi, menurut Pak Guru, Thamrin bukan anak yang seperti itu. Thamrin itu anak yang tergolong cerdas, pernah selama dua minggu dia nggak masuk sekolah. Gurunya nggak nyariin karena udah tau pasti akan bingung mau nyari di mana. Biasanya kalo dia nggak masuk sekolah, berarti rumah kardusnya baru aja kena gusur. Dia dan 11 orang anggota keluarga lainnya harus cari kardus-kardus dan tempat lagi buat tinggal. Dua minggu berlalu, baru deh dia masuk sekolah lagi, dengan semangat belajar yang sama, seperti nggak ada apa-apa. Pak Guru cerita, katanya pernah nemuin keluarga Thamrin di dekat kolam renang Senen. Ngenes. Tapi nggak tau mau diapain lagi.
Suatu hari bapaknya Thamrin meninggal karena 'angin duduk', kalo kita mungkin biasanya bilang angina pectoris. Jenazahnya ditaro di atas rel kereta yang udah nggak kepake dan ditutupin gitu aja pake koran. Semuanya dilakuin kayak begini karena nggak tau mau diapain. Nggak ada uang buat mandiin, ngafanin, dan nguburin. Jadi Pak Guru dan beberapa orang 'relawan' dadakan yang nitipin jenazah ke masjid terdekat supaya diurus. Setelah itu, Thamrin jadi semakin jarang masuk sekolah. Semakin sering Pak Guru harus nyariin dia ke rel-rel kereta dan lainnya buat masuk sekolah.
Ujian Nasional Thamrin akhirnya bernilai tertinggi se-Kecamatan Senen. Pak Guru memang udah tau bakat Thamrin, dan menyarankan Thamrin supaya nerusin sekolah. Tapi keluarganya menolak dengan alasan takut ngerepotin lah, takut susah nyari uang lah, dan lain sebagainya. Padahal ada BOS dari pemerintah yang bisa dipake Thamrin sampe SMP setidaknya. Sampe sekarang, Pak Guru nggak tau gimana kelanjutan hidup Si Thamrin.
Gue selama ini ngira, cerita Thamrin cuma ada di bayangan
pengarang-pengarang cerita yang mengharukan, tapi ternyata ada Thamrin
yang sesungguhnya. Gue nggak berharap preman yang gue temui di bus dua
hari lalu adalah Thamrin. Dunia memang sempit, tapi preman-preman kayak
gitu nggak cuma satu-dua, kan. Nggak bisa gue pungkiri juga, kalo dia masih
dengan hidupnya yang lama, tanpa pendidikan formal dan agama yang
ngajarin kebaikan dan kejujuran, ada kemungkinan dia menjadi seperti
itu. Semoga Thamrin kembali sekolah. Semoga nanti Thamrin bisa ngubah
rumah kardus jadi rumah yang lebih layak dengan cara yang baik dan
jujur. Amin.
Ini memang bukan kali pertama gue ketemu anak-anak jalanan yang sekolah. Beberapa kegiatan pernah mempertemukan gue dengan mereka. Dan kegiatan baru-baru ini (screening pasien pedo/kedokteran gigi anak) membuat gue kembali lagi turun dan melihat kehidupan mereka. Sebenernya semangat belajar mereka ada, cuma perlu konsentarsi yang lebih terpusat pada sekolah aja supaya mereka bisa bener-bener belajar. Tapi kehidupan mereka yang bikin mereka jadi nggak bisa fokus sama pendidikan. Peran orang tua penting banget. Tapi nggak jarang justru mereka terlahir dari orang tua yang-maaf-tidak bisa bertanggung jawab. Bukan tidak bertanggung jawab, tapi tidak bisa. Jadi inget salah satu RS di mana gue pernah jaga, bagian perinatologi nya selalu penuh. Menandakan betapa tinggi angka kelahiran. Betapa sering seorang Ibu hamil di usia muda, tanpa mempertimbangkan dulu, apakah mampu membesarkan dan merawat anak-anaknya dengan baik sesuai amanah.
Waktu gue screening pasien pedo Rabu lalu, anak-anak SD itu kayaknya nggak seteratur gue dan temen-temen gue waktu SD deh, gurunya lebih galak-galak (mungkin maksudnya tegas). Mereka memperlakukan siswa-siswa begitu tegas. Padahal cara gue screening udah kayak biasanya gue dan temen-temen melakukan penyuluhan ke anak-anak, fun, baik dan ramah, dan banyak memuji. Tipikal kesukaan anak-anak. Tapi ternyata anak-anak di SD ini beda penanganannya. Gue dulu nggak pernah punya guru kayak gitu, tapi di SD itu ada. Pas ngobrol sedikit sama gurunya, ternyata beliau seperti Pak Guru. Dedikasi tinggi untuk pendidikan anak-anak di SD nya. Sama mulianya dengan guru-guru di sekolah lain. Bahkan punya nilai plus di beberapa aspek, menurut gue. Just another awesome proof of how honorable teachers are.
Alhamdulillah, gue mendapat kesempatan sekolah sampe saat ini. Jauh terlalu beruntung dibandingin Thamrin dan temen-temennya. Mungkin sebenernya mereka ini anak-anak yang cerdas, buktinya masih bisa konsentrasi belajar dalam kondisi keluarga seperti itu dan di rumah kardus, yang setiap pagi dan sore harus cari uang juga. Allah mungkin punya jalan masing-masing untuk hamba-Nya, tapi kita tetep harus usaha dan nggak boleh jauh-jauh dari kejujuran dan keikhlasan. Dia Maha Adil. Pasti semua ini ada alasan-kenapa-nya.
picture from weheartit.com











